Rumah di Kampung Naga terbuat dari berbagai bahan alami lokal seperti kayu, bambu, ijuk, dan daun tepus, yang kekuatan maupun ketahanannya telah teruji oleh alam. Sedikitnya polusi yang dihasilkan, ringannya beban bahan bangunan yang harus ditopang, dan efesiennya biaya dalam jangka panjang, adalah nilai tambahan dari bahan-bahan ini. Pemakaian bahan-bahan alami lokal ini merupakan upaya yang digariskan leluhur dalam mengadaptasi potensi dan daya dukung alam sekitar. Namun, kelemahan bahan-bahan tersebut adalah kerentanannya terhadap api, yang menjelaskan ketakutan masyarakat Naga terhadap sumber kebakaran. Mungkin ini penyebab mereka menolak masuknya jaringan listrik ke Kampung Naga. Karena kerentanan ini pula, leluhur mereka mengharuskan penggunaan sasag, yang memang mempunyai sela-sela anyaman yang lebih jarang, untuk mempermudah pengawasan sumber api di dalam rumah.
Rangka yang terbuat dari kayu juga sensitif terhadap kelembaban sehingga diletakkan di atas tatapakan dengan ketinggian 40-60 cm di atas tanah. Dengan demikian, terbentuklah kolong yang memungkinkan aliran udara masuk dari bagian bawah rumah. Pada sebagian rumah, kolong juga berfungsi sebagai kandang ayam.
Dinding rumah dikapur (dilapisi kapur dan dicampur air) sehingga berwarna putih, dengan pemakaian kapur dinding rumah menjadi awet dan berkesan bersih.
Masyarakat Kampung Naga hidup dengan bersawah dan berhuma. Melalui kepercayaan kepada Dewi sri, mereka menempatkan padi sebagai dasar kemakmuran dan mempertahankan jenis padi warisan karuhun yaitu pare gede dan pare segon. Pada waktu-waktu senggang mereka menambah penghasilan dengan membuat barang-barang kerajinan dari bambu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar